Dari Bali ke Lombok: Arah Baru Bisnis Pariwisata

Dalam beberapa tahun terakhir, narasi “Bali sekarang, Lombok nanti” makin sering terdengar di kalangan pelaku pariwisata dan investor. Bali tetap jadi pintu masuk utama wisatawan mancanegara, tapi tekanan overtourism, regulasi lebih ketat, dan biaya yang naik perlahan membuat sebagian pelaku bisnis mulai melirik Lombok sebagai frontier baru.

Apa yang Terjadi di Bali?

Bali masih jadi etalase utama pariwisata Indonesia, dengan lebih dari 6 juta wisatawan internasional per tahun dan kontribusi pariwisata ke PDB daerah yang sangat dominan.

Namun, beberapa tren mulai menggeser cara pelaku usaha memandang Bali:

  • Overtourism di kawasan selatan (Kuta–Seminyak–Canggu–Ubud) memicu kemacetan, tekanan lingkungan, dan keluhan warga.

  • Pemerintah daerah mulai menerapkan levy/tax wisatawan dan mempertimbangkan moratorium pembangunan hotel/villa baru di area tertentu.

  • Biaya tanah, sewa, dan operasional di lokasi prime naik signifikan, menekan margin hotel kecil, kafe, dan usaha tur.

Bali tetap prioritas nasional, tapi sekarang juga didorong sebagai “hub” untuk menjelajah destinasi lain di Indonesia – salah satunya Lombok

Photo by Fransisca Zagita on Unsplash
Photo by Fransisca Zagita on Unsplash

Kenapa Lombok Makin Menonjol?

Lombok mulai diposisikan sebagai “Bali berikutnya” dengan pendekatan yang (setidaknya di atas kertas) lebih berkelanjutan.

Beberapa faktor pendorong:

  • Infrastruktur: pengembangan Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus, sirkuit MotoGP, dan peningkatan bandara internasional.ANTARA News+2invest-islands.com+2

  • Insentif investasi: berbagai skema untuk hotel, resort, dan properti wisata dengan harga lahan yang masih jauh di bawah Bali dan potensi ROI lebih tinggi.

  • Narasi “lebih alami dan autentik”: pantai sepi, budaya Sasak, dan citra destinasi yang belum terlalu jenuh.

Secara data, NTB menargetkan 2,5 juta kunjungan wisatawan pada 2024 dan tren kunjungan domestik maupun mancanegara terus naik pascapandemi.

Pergeseran Bisnis: Dari Padat ke Tumbuh

Bagi pelaku bisnis pariwisata, pergeseran ini terasa dalam beberapa pola:

  • Investor properti mulai mengalokasikan sebagian portofolio dari villa Bali ke lahan dan resort di Lombok, terutama Kuta Mandalika dan selatan Lombok.

  • Operator tur menjual paket “Bali + Lombok” atau bahkan menonjolkan Lombok sebagai main destination, sementara Bali jadi titik kedatangan dan keberangkatan.

  • Hotel chain dan brand internasional mulai membuka properti di Mandalika dan sekitarnya, mengonfirmasi keyakinan pasar bahwa permintaan akan terus tumbuh.

Bali belum ditinggalkan, pulau ini masih jadi magnet utama. Tetapi Lombok jelas naik kelas dari “alternatif quiet escape” menjadi node penting dalam strategi pertumbuhan jangka panjang.

Photo by Afif Ramdhasuma on Unsplash
Photo by Afif Ramdhasuma on Unsplash

Implikasi untuk Pelaku Usaha Indonesia

Bagi pengusaha hotel kecil, homestay, restoran, tour operator, dan travel agent di Indonesia, arah ini punya beberapa implikasi:

  • Diversifikasi lokasi: hanya mengandalkan satu pulau, terutama area super padat di Bali selatan, membuat bisnis rentan terhadap regulasi baru, kenaikan biaya, dan perubahan selera wisatawan.

  • Segmentasi ulang pasar: Lombok lebih kuat untuk narasi eco-tourism, adventure tourism, dan community-based tourism; paket dan positioning perlu disesuaikan.

  • Kolaborasi lintas pulau: kerja sama antara pelaku usaha Bali dan Lombok (misalnya shuttle, paket gabungan, cross-promotion) bisa menangkap value chain yang lebih panjang, bukan sekadar rebutan pasar.

Ke depan, yang kemungkinan terjadi bukan “Bali mati, Lombok naik”, melainkan jaringan destinasi di mana Bali tetap menjadi etalase utama, dan Lombok muncul sebagai pilihan kuat bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda—dan bagi pengusaha yang mencari ruang tumbuh baru.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments